0
Home  ›  Dakwah  ›  Khazanah Islam  ›  Kisah  ›  Sejarah  ›  Tsaqofah

Mustafa Kemal Atatürk: Bagi Anda yang Belum Mengenalnya

Mustafa Kemal Atatürk

Sumber gambar: ThoughtCo

Mustafa Kemal Atatürk adalah pendiri Republik Turki modern. Namun di balik gelar "Bapak Bangsa Turki" yang ia sandang, tersimpan catatan sejarah yang jarang diangkat: kebijakan sekularisasi yang ia paksakan terhadap masyarakat Turki, dan bagaimana Allah SWT memperlihatkan kebesaran-Nya pada akhir hayatnya. Bagi Anda yang belum mengenalnya, artikel ini menyajikan profil dan kebijakan-kebijakannya secara utuh.

Ia lahir di kota Salonika (kini wilayah Yunani). Dalam riwayat kehidupannya yang gemar mengonsumsi alkohol hingga mabuk, ia bahkan secara terbuka bermegah-megah melontarkan pengakuan bahwa ia tidak mengenal siapa ayah kandungnya.

Kebijakan Sekularisasi oleh Mustafa Kemal

Sepanjang kekuasaannya, Atatürk menerapkan serangkaian kebijakan yang memisahkan agama dari kehidupan bernegara. Berikut kebijakan-kebijakan utamanya:

1. Pembubaran Khilafah & Pengasingan Dinasti Utsmaniyah

Atatürk resmi menghapuskan sistem Kesultanan (1922) dan Kekhalifahan Utsmaniyah (1924) serta mengasingkan anggota keluarga kekaisaran Utsmaniyah keluar negeri.

2. Sekularisasi Hukum & Kesetaraan Waris (1926)

Hukum Islam (Mecelle) digantikan oleh Kitab Undang-Undang Perdata Swiss, yang menetapkan hak waris setara bagi pria dan wanita serta melarang poligami.

3. Pemindahan Ibu Kota

Ibu kota dipindahkan dari Istanbul (kota yang penuh dengan menara masjid) ke Ankara yang terpencil pada 1923. Tujuannya untuk menegaskan pemisahan dari simbol pemerintahan kesultanan lama.

4. Perubahan Hari Libur Mingguan

Pada tahun 1935, hari libur resmi diubah dari hari Jumat menjadi hari Minggu untuk menyesuaikan dengan sistem ekonomi dan kalender Barat.

5. Alih Fungsi Hagia Sophia

Pada tahun 1934/1935, Hagia Sophia diubah dari fungsi masjid menjadi museum publik (sebelum akhirnya dikembalikan menjadi masjid pada tahun 2020).

6. Penindasan Terhadap Oposisi Keagamaan

Pengadilan Khusus (Istiklal Mahkemeleri) memvonis hukuman mati bagi sejumlah ulama dan tokoh yang melakukan pemberontakan bersenjata atau perlawanan terbuka terhadap undang-undang sekuler (seperti Peristiwa Pemberontakan Sheikh Said tahun 1925).

7. Larangan Pengajaran Bahasa Arab & Pergantian Abjad

Melarang pengajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah, mengganti abjad Arab-Utsmaniyah dengan Abjad Latin yang disesuaikan dengan fonetik bahasa Turki (Reformasi Bahasa 1928).

8. Azan Wajib Berbahasa Turki

Sejak tahun 1932, azan wajib dikumandangkan dalam bahasa Turki, hingga 1950 (dikembalikan ke bahasa Arab oleh Perdana Menteri Adnan Menderes).

9. Undang-Undang Topi (1925)

Atatürk mengesahkan Undang-Undang Topi yang melarang Fez bagi pria dan mendorong pakaian ala Barat. Ia secara sosial menentang pemakaian cadar/jilbab, namun aturan hukum ketat yang melarang jilbab secara resmi di lembaga pemerintahan dan universitas baru dimatangkan beberapa dekade setelah ia wafat (sekitar tahun 1980-an).

10. Menghapus Nama "Mustafa"

Nama lahirnya adalah Mustafa. Nama "Kemal" diberikan oleh guru matematikanya. Pada reformasi nama keluarga tahun 1934, ia mengadopsi nama "Kamâl Atatürk". Nama "Mustafa" jarang ia gunakan secara resmi di akhir hayatnya, tetapi tidak pernah secara formal "dihapus secara paksa" dari catatan sejarah.

11. Mengubah Sumpah Jabatan

Mengubah sumpah jabatan dari bersumpah atas nama Allah menjadi bersumpah atas nama kehormatan.

12. Penghinaan Terhadap Kitab Suci

Berpidato di hadapan Parlemen Turki pada tahun 1923: "Kita kini berada di abad ke-20 dan era industri, kita tidak bisa lagi berjalan mengikut panduan kitab yang membahas tentang buah tin dan zaitun." (Maksudnya adalah Al-Qur'an).

Akhir Hayat: Pelajaran bagi yang Mau Memperhatikan

Lalu Allah membinasakannya. Secara medis dan historis, Atatürk meninggal pada 10 November 1938 di Istana Dolmabahçe, Istanbul, akibat penyakit Sirosis Hati — komplikasi dari konsumsi alkohol kronis selama bertahun-tahun.

فَأَهْلَكْنَا أَشَدَّ مِنْهُمْ بَطْشًا وَمَضَىٰ مَثَلُ الْأَوَّلِينَ

"Maka Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya dari mereka itu dan telah berlalu contoh orang-orang terdahulu." (QS. Az-Zukhruf: 8)

Sebelum dimakamkan, shalat jenazah untuk Atatürk tetap dilaksanakan pada 19 November 1938 di Istana Dolmabahçe yang dipimpin oleh Prof. Sharafuddin Yaltkaya (tokoh yang kelak menjabat sebagai Kepala Badan Urusan Agama Turki/Diyanet).

Jenazahnya diawetkan (embalmed) dengan prosedur medis formal, disimpan di Museum Etnografi Ankara, dan kemudian dipindahkan ke Anıtkabir pada tahun 1953.

Kesimpulan

Kisah Mustafa Kemal Atatürk adalah pengingat bahwa kekuasaan, kegagahan, dan modernitas tidak pernah mampu menandingi ketetapan Allah. Sekuat apa pun seorang manusia membangun peradaban di atas penolakan terhadap agama, pada akhirnya kekuasaan itu akan sirna. Sebagaimana firman Allah, orang-orang yang lebih besar kekuatannya pun telah dibinasakan — lalu bagaimana mungkin kita yang jauh lebih lemah merasa aman dari adzab-Nya?

Bagi generasi muslim masa kini, pelajaran terbesarnya bukan sekadar sejarah. Setiap kebijakan yang meminggirkan agama dari kehidupan adalah bibit kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.

Sumber: Facebook Turkinesia

Posting Komentar
Postingan Lebih Baru
Postingan Terbaru
Additional JS