Migrasi ke Pulau Syariah: Menjawab Tuduhan "Kabur dari Kenyataan"
Di antara tuduhan yang sering dilontarkan kepada orang-orang yang memperjuangkan Syariah Islam adalah: "Kalau kalian memang mau hidup dengan Syariah Islam sepenuhnya, kenapa tidak pergi saja ke pulau terpencil dan membangun peradaban di sana? Biar kami bisa melihat hasilnya."
Pertanyaan semacam ini terdengar masuk akal di permukaan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, ia sebenarnya menyimpan kekeliruan besar dalam memahami posisi Syariah, kewajiban dakwah, dan bagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjalankan risalahnya.
Dialog yang Menyingkap Kekeliruan
A: Jika kalian mau hidup dengan Syari'ah Islam sepenuhnya, kenapa tidak pergi bareng-bareng ke pulau terpencil, membangun peradaban di sana, biar kami bisa melihat hasilnya?
B: Anda orang Islam? Anda mengimani Syariat Islam? Anda mau hidup sepenuhnya di atas rel Syariat Islam? Jika iya, lantas mengapa Anda bicara seolah itu hanya kewajiban kami?
Jika itu jalan terbaik menurut Anda, kenapa tidak Anda lakukan sendiri? Apa jangan-jangan Anda tidak mau, seolah Anda mau bilang, "Kalau mau Syariah Islam, sana pergi ke pulau terpencil..."?
Kalau kami, sih, punya tujuan dan jalan perjuangan yang tidak seperti itu, sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menggalang para sahabatnya untuk mengasingkan diri di sekitar oase terpencil, menjauh dari peradaban kaum yang menjadi objek dakwah beliau.
Pelajaran dari Jalan Dakwah Rasulullah
Jawaban di atas menegaskan satu prinsip penting: Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk lari dari masyarakat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdakwah di tengah masyarakat Jahiliyah Makkah, menghadapi penolakan, hinaan, hingga ancaman pembunuhan — bukan dengan mengasingkan diri, melainkan dengan tetap hadir menyampaikan kebenaran.
Umat Islam justru diperintahkan untuk menjadi bagian dari peradaban, memperbaiki dari dalam, dan menegakkan Syariah di tengah kehidupan nyata. Bukan lari ke pulau terpencil untuk membangun enclave sendiri.
Seandainya logika "pindah ke pulau terpencil" itu benar, tentu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan memilihnya. Namun beliau tidak melakukannya, dan para sahabat pun tidak. Sebab dakwah bukan soal mencari kenyamanan, melainkan soal menyampaikan kebenaran kepada manusia.
Kesimpulan
Tuduhan "pergi ke pulau terpencil" sejatinya lahir dari ketidaksediaan untuk menerima Syariah sebagai jalan hidup. Syariah Islam bukan kewajiban segelintir orang — ia adalah kewajiban setiap muslim, dan dakwah kepadanya adalah tanggung jawab bersama, bukan pelarian ke tempat sunyi.
Maka, siapa pun yang meyakini Syariah sebagai jalan terbaik, pertanyaannya bukan "mengapa kalian tidak pergi ke pulau?", melainkan "mengapa kita semua belum menjalankannya di sini?".
Ust. Titok Priastomo